Sedikit Pelajaran Hidup dari Amir

Tak banyak hal yang dapat diketahui dari seorang mahasiswa rantau dari Magetan, daerah tanah Jawa ini. selain Ma’ruf, nama belakangnya, hampir tak ada lagi informasi yang dapat diperoleh rekan-rekan sejurusan di kampusnya. Wajar saja Amir memang kurang begitu populer dikampusnya, lebih sering menghabiskan waktu diluar kampus, ketika sedang berkumpul dengan teman-temanya pun, dia lebih sering mendengarkan, daripada berbicara. Keberadaanya nyaris sama dengan ketidakberadaanya. Jika berada pada  sutau forum perdebatan  apabila tidak ada hal yang terlalu mengganggu secara prinsipil dia tidak pernah angkat bicara, lebih suka tersenyum dan setuju, sebisa mungkin menghemat kata-kata, kecuali memang benar-benar  perlu untuk angkat bicara. Diam itu emas, mungkin peribahasa itu menjadi prinsipnya.

Telah hampir lima tahun kami kuliah bersama, namun sosok mengenai Amir tetap tidak banyak yang tahu secara mendalam. Angkatan kami dikenal paling kompak dan paling solid, hubungan personal antar mahasiswa 90 persen terjalin secara mendalam, aku sendiri sudah sangat sering menumpang di kontrakan salah seorang sahabat jika ada kegiatan dikampus yang menyebabkan pulang terlalu larut, bahkan aku telah menyimpan beberapa pakaian dan perlatan mandi disana, seperti kontrakan sendiri, dan semua tempat kontrakan anak-anak (tentu saja  yang laki-laki) di Jatinangor ini sepertinya pernah aku tumpangi semuanya. Kecuali  kontrakan Amir. Namun Amir tampaknya  termasuk pada yang 10 persen. Terlihat akrab namun hanya sebatas permukaanya saja. Interaksi terbatas pada saat kuliah, mengerjakan tugas kelompok, sesekali belajar bersama dan pada saat bermain sepak bola, itupun dia hanya akan datang jika sedang ada kompetisi sepak bola, jika hanya untuk iseng-iseng jangan terlalu berharap dia akan datang. Dia selalu absen jika anak-anak sedang nongkrong di gerbang kampus, nge-game di game center atau jalan-jalan ke Bandung. Mahasiwa KUPU-KUPU, KUliah-PUlang KUliah PUlang.

Pendiamnya Amir juga diiringi dengan prestasi yang “pendiam” juga. Parameter prestasi dari seorang mahasiswa biasanya dapat dilihat dari dua hal, yang pertama secara akademik menyangkut niali-nilai kuliah, IPK dll, yang kedua secara keorganisasian, seperti keanggotaan di HIMA, BEM atau organisasi di luar kampus. Amir ?? tidak keduanya. Secara akademik tidak terlalu menonjol, tidak cemerlang, namun tidak juga “jongkok”, berada diantaranya. Secara keorganisasian pun amir kurang begitu eksis (merupakan penghalusan kata dari kata sama sekali tidak eksis), tidak tercatat sebagai anggota HIMA atau BEM, sebagaimana  mahasiswa lainya yang berlomba-lomba ”meniti karir“ di lembaga yang biasa disebut miniatur pemerintahan tersebut. Amir hanya tergabung di DKM kampus, dari awal  diterima di kampus ini hingga kini masih sering “nongkrong” di mesjid kampus, tapi tidak pernah berada di posisi penting sebagai ketua atau kordinator bidang.

Saat ini aku sedang duduk berdua dengan Amir. Di sebuah acara pernikahan seorang kerabat kami di sukabumi, saat ruangan mulai sepi, para tamu undangan telah meninggalkan acara resepsi seiring dengan waktu yang makin merayap, aku sendiri belum beranjak untuk pulang, karena aku datang ke acara ini sedikit terlambat, dan masih agak lelah akibat perjalanan dari Bandung dengan menggunakan bus.  Agak lama juga aku tidak bertemu dengan amir, karena kesibukan penelitian dalam menyelesaikan skripsi masing-masing.

“Gmana kabarnya mir?, kapan mo nyusul si Yan nikah” tanyaku basa-basi,

“Alhamdulillah baek ndri, hehe…calonya aja belum ada, blom laku nih…” jawabnya dengan logat jawa yang belum hilang meski telah lebih dari lima tahun hidup di daerah sunda.

Obrolan-obrolan basa-basi pun terus berlangsung, seputar kampus, seputar kabar dari teman-teman yang lain yang telah lulus duluan, seputar skripsi kami masing-masing dll.

“kapan mir kira-kira beres kuliah?” tanyaku lagi

“Targetnya sih pengen wisuda November,  mudah-mudahan lah”

“trus kalo dah lulus mo ngapain mir”. Aku mencoba sedikit mengorek tentang tujuan hidupnya

“mau pulang aja ke Magetan”. Jawabnya

“ko pulang ke Magetan sih mir, bukanya nyari kerja di Bandung dulu atau dimana kek kota besar lainya, kan kesempatan lebih terbuka daripada di Magetan”

“……..”

Amir tediam, entah dia berpikir, atau dia enggan untuk membagi tujuan hidupnya, tapi rasanya alasan yang kedua aku rasakan lebih tepat.

Apakah aku salah bicara, sehingga dia tersinggung, atau dia lebih nyaman hidup dengan jalan tujuanya sendiri tanpa harus ada yang mengetahuinya. Aku berpikir rasanya perkataanku itu tidak salah, Magetan seingatku adalah kabupaten kecil di tanah Jawa, jarangnya Magetan terekspos karena memang tidak ada yang bisa dibicarakan mengenai daerah itu. Akupun ingat nama Magetan karena beberapa waktu lalu ada pesawat militer jatuh di daerah itu, sehingga tersiar di media. Aku bahkan tidak tahu apakah Magetan itu ada di Jawa tengah atau Jawa timur. Lantas apakah didaerah kecil tersebut dapat menyerap seorang sarjana untuk bekerja, untuk berwirausaha pun kota-kota besar lebih menjanjikan.

“kamu rencananya mau nyari kerja atau mau usaha?”, aku mencoba mengalihkan pertanyaan

“pengenya usaha sendiri”, dia mulai terbuka

“oh jadi di Magetan mau bikin bisnis”, aku menerka

“hehe… iya, Agribisnis, meskipun modal nya juga belum kebayang dari mana”

Aku tau Amir mencoba merendah, selain pendiam sifatnya yang kedua adalah suka merendah. padahal kuliah di Teknologi Pertanian ini merupakan modal paling besar untuk ber-agribisnis, modal selanjutna berupa materi akan mengikuti belakangan. Aku sebenarnya tahu bahwa dia juga tahu akan hal ini. Ilmunya dulu kuasai, karena modal yang paling berharga bukan berupa materi tapi ilmu, begitu yang aku dengar dari seorang motivator entreupreneurship.

“kamu sendiri gmana ndri rencananya, km kan lusa sidang kelulusan?” amir mulai bertanya

“iya mir doain aja sidangnya lancar. Rencananya dah lulus pengen nyari kerja” jawabku standar  “km gak berencana buat nyari kerja dulu mir?”

Amir diam sejenak,

masih berusaha untuk tidak menjawab pertanyaanku

“kalau kerja sih sekarang juga udah kerja, saya sekarang selain ngerjain skripsi juga kerja di tempat les privat ngajarin anak SD atau SMP”

“ohhh…..  “ aku melanjutkan  “apa gak sebaiknya beresin dulu skripsinya mir, biar cepet selese. fokus dulu satu-satu, kalo dah lulus kan mau kerja atau mau usaha juga terserah”. Aku berusaha memberikan sedikit masukan untuknya. Karena aku juga pernah mencoba berkeja di suatu kantor sambil terus menyelesaikan skripsi. Hasilnya tidak memuaskan, skripsi tak kunjung selesai.

Amir kembali terdiam

Aku menunggu apa yang akan dia katakan

Dia mulai menjawab, tanpa memandang ke arahku lagi. jawaban yang diluar perkiraanku

“kalau gak kerja saya gak bisa makan dan gak bisa kuliah”.

Dia menarik napas agak dalam

“saya mau pulang ke Magetan juga sebenarnya saya punya misi untuk diri saya sendiri”

***

Sore itu dalam bus ekonomi jurusan Sukabumi-Bandung  yang mengantarku pulang melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kota sukabumi. Suara nyaring sekelompok  pengamen dan hiruk pikuk penjual asongan sama sekali tidak menarik perhatianku, mataku menerawang keluar jendela bus. Bukan untuk menikmati indahnya pemandangan, namun masih terngiang pembiacaraanku denagn Amir siang tadi. Selama ini dia jarang terlihat dikampus karena harus berjuang untuk mencari penghasilan.

Bekerja sebagai guru privat sebernanya pekerjaan yang paling bagus yang dia peroleh saat ini. Sebelumnya dia bekerja apa saja untuk menyambung hidup dan berkuliah. Pada saat tahun pertama kuliah dia bekerja di sebuah percetakan, mencetak buku majalah dll. Kemudian untuk mengefisienkan waktu kuliah agar tidak terlalu banyak terganggu dia mengalihkan “pekerjaanya” menjadi di kampus, sebagai penjual kue donat . Mengambil beberapa kotak besar donat dari pabrik donat kemudian di bawa ke kampus,  sebagian kotak dititipkan di kantin, sebagian dititipkan di mushola, dan sebagian lagi dia jual langsung kepada teman-temanya . Dia pun sempat mengambil cuti satu semester untuk menggeluti dunia MLM, meski berujung pada hasil berupa kesuksesan yang tertunda. Bahkan sebenarnya dia lulusan SMU setahun lebih tua, namun baru masuk kuliah pada angkatan kami. Masa satu tahun itu dia gunakan untuk merantau ke Bandung mengikuti jejak kakanya dan bekerja, di sebuah pabrik roti. Itu adalah pekerjaan paling berat menurut pengakuanya, bekerja 8 jam sehari membungkus roti dengan plastik pembungkus, hanya dengan menggunakan sebuah lilin dia harus melakukanya dengan sangat cepat, ratusan lusin roti dalam sehari. Dari proses packaging roti ini dia hanya dibayar Rp 7000 sehari. Meski dengan bonus bahwa dia boleh tinggal menginap di pabrik roti itu secara gratis, tetap saja tidak sebanding dengan beratnya pekerjaan. Apabila fenomena ini terendus oleh LSM-LSM pejuang hak-hak buruh, tentu pabrik roti tempatnya bekerja saat itu akan diadukan ke pengadilan, kalu perlu hingga ke Mahkamah Internasional, atau bahkan diadukan ke KOMNAS HAM, Kak Seto-pun sepertinya akan turun tangan karena menyangkut eksploitasi anak dibawah umur.

Pada saat itu sebenarnya keinginan Amir untuk kuliah mulai surut. Bahkan dua hari menjelang SPMB dia terpaksa menginap di rumah Allah. Ya benar , di sebuah Mesjid, tanpa uang sepeserpun dikantongnya. Karena dia telah berhenti bekerja di pabrik roti, sehingga “fasilitas” menginap di pabrik roti bersama dus-dus, plastik, mesin adonan dll tidak dapat dia gunakan lagi. Meskipun dia sebenarnya memiliki seorang kakak, di kota ini, namun dia lebih memilih tidur di mesjid. “Gak enak ngerepotin kakak, selain sudah berkeluarga, hidupnya juga sama-sama susah, untuk nolongin diri sendiri dan kelurganya juga  masih kesulitan, apalagi harus juga menolong saya, adiknya” begitu ungkapnya. Meski demikian, SPMB tetap ia ikuti, berangkat ke tempat tes dengan perasaan nothing to lose. Jika keterima di PTN, Alhamdulillah, jika tidak diterima pasti ada cara yang lain untuk menggapai impianya. Sehari setelah SPMB dia pulang ke Magetan dengan pinjaman uang dari kerabatnya, setelah dirumah baru ia kembalikan uang itu dengan cara ditransfer.

Itulah alasan selama ini dia kurang bergaul di kampus. Baru kali ini aku berbicara panjang lebar denganya, baru kali ini juga dia menceritakan segala mengenai kehidupanya.  Waktunya banyak tersita untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia relakan hidupnya tanpa banyak mengeluh, tanpa pernah menyalahkan orang tuanya yang kurang mensuport secara financial, tanpa pernah menyalahkan takdir yang selama ini kurang ramah terhadapnya, tanpa pernah menyalahkan Tuhan karena tidak melahirkanya di keluarga pejabat.

Malu rasanya hati ini merenungkan kisah hidup Amir. Sangat berbeda dengan kehidupanku selama ini. Apa saja yang sudah kulakukan selama ini, banyak mengisi hidup dengan hal-hal yang tidak berguna, hidup tanpa arah dan tujuan yang jelas, hidup dibalik ketiak bapaknya, hidup hanya untuk menunggu mati. Pada saat mulai kuliah sebagai mahasiswa baru, bukanya merubah cara hidup menjadi lebih dewasa aku malah merengek kepada orang tua untuk dibelikan sepeda motor dengan alasan karena telah lulus SPMB dan jarak dari kampus ke rumah yang sangat jauh. Waktu luang diluar kuliah biasanya diisi untuk bermain game di game center, atau menghabiskan waktu sia-sia nongkrong bersama teman-teman di gerbang kampus. Parahnya lagi aku merasa kehidupanku ini adalah hal yang sudah benar, aku sudah melaksanakan tanggung jawabku kepada orang tua, dengan kuliah yang baik. Padahal sebenarnya tanggung jawab yang paling besar adalah tanggung jawab pada diri sendiri, dan tanggung jawab pada Allah SWT. Tanggung jawab itulah yang akan menentukan hidupku kelak, hidup yang sebenarnya, hidup yang ditentukan sepenuhnya oleh diri sendiri, juga kehidupan setelah kematian.

Setetes embun bening mulai terkumpul di sudut mata, berkaca-kaca. Hari ini aku dapat pelajaran yang berharga,sangat berharga. Bukan dari dosen pembimbingku yang bergelar profesor, bukan juga dari motivator ulung berskala nasional yang sering aku ikuti. Tapi dari seorang Amir, seorang mahasiswa kawakan yang belum juga lulus di tahun keenamnya, seorang mahasiswa yang kredibilitasnya belum ada yang mengakui, seorang mahasiwa berperawakan kecil, berkulit sawo matang, berambut gondrong,  berpenampilan sederhana dan selalu sama (Kemeja yang warnanya sudah agak pudar dengan celana bahan kain, aku belum pernah melihat dia memakan celana jeans).

Hari ini mataku terbuka lebih lebar, sedikit lebih memahami tentang cara memandang kehidupan ini dan menjalani hidup itu sendiri. Satu pelajaran lain yang kudapat dari amir, Tekad yang kuat. Setelah lulus kuliah di akan kembali ke Magetan, bukan semata-mata untuk pulang ke kampung halaman, melepas rindu dengan sanak kerabatnya. Tapi untuk menjalankan misi hidupnya, meniti kesuksesan disana.

Pada saat dia sekolah di salah satu SMU di Magetan salah seorang  gurunya pernah berkata, jika ingin sukses dalam hidup, pergilah dari sini, tempat ini tidak mengenal yang namanya kesuksesan. Pergilah ke kota, atau setidaknya tempat lain yang lebih menjanjikan. Kata-kata yang telah terpatri dalam diri Amir, dia ingin mematahkan postulat guru SMU-nya itu. Dia ingin melahirkan kesuksesan di desanya, Magetan. Dia ingin mengatakan kepada seluruh dunia bahwa di desanya sendiripun dia bisa hidup sukses.

Sulit memang, pasti berat. Namun untuk seorang amir, yang sudah sangat terbiasa bermain dengan resiko, bercengkrama dengan nestapa, akrab dengan kerja keras, bersahabat dengan ketidakpastian. Rasanya hal itu tidak akan menjadi tidak mungkin lagi. Man jadda, wa jadda.

Sukses selalu untukmu kawan, aku akan selalu berdoa untuk keberhasilan kita semua.

Teruslah berjuang,

jangan menyerah sampai awan gelap menghilang,

suatu saat mentari akan bersinar terang,

kebahagiaan pasti akan datang….

Selesai hari Jumat 31 juli 2009 di kamar

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di pelajaran hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s