Mahasiswa Berfilosofi Sangkuriang

Mahasiswa maha sibuk, begitu kira-kira sebah iklan minuman isotonik menggambarkan arti dari mahasiswa. Tentu saja gambaran tersebut bermakna hiperbolis, namun juga tidak sepenuhnya keliru. Aktifitas sehari-hari seorang mahasiswa tidak pernah lepas dari yang namanya kesibukan. Tugas, Laporan praktikum ,  makalah, paper, draft skripsi, dll selalu mewarnai  hari-harinya, mengharapkan keseharian tanpa beban  tugas-tugas tersebut sama saja dengan megharapkan hujan turun dimusim kemarau. Bisa saja hujan tersebut turun, namun pasti sangat jarang dan durasinya juga sebentar, begitu juga dengan tugas-tugas kuliah.  Belum lagi tugas-tugas tersebut pastilah memiliki tenggat waktu tertentu atau deadline, Sehari, seminggu, atau sebulan. Terlambat mengumpulkan akibatnya bisa bermacam-macam, namun yang pasti semuanya buruk. Dalam situasi seperti ini barulah bisa dimengerti mangapa orang-orang barat membuat pepatah “time is money”.

Sebagian mahasiawa lebih suka “mencicil” pengerjaan tugasnya sedikit demi sedikit, setiap hari agar tidak terasa terlalu  berat, dan agar memiliki waktu yang cukup untuk menghasilkan tugas dengan kualitas yang baik. Sebagian lagi lebih suka mengerjakanya sekaligus pada saat sehari menjelang deadline, pada saat waktu masih banyak entah apa yang mereka lakukan, I don’t know its dark (au ah gelap). Deadline semakin dekat kepanikan meningkat, berpacu dengan waktu. Tugas terpaksa dipercepat, dipersingkat, diperpadat. Mahasiswa jenis yang kedua disebutkan ini jumlahnya lebih banyak daripada mahasiswa jenis yang pertama. Tentu saja pernyataan ini tidak diperoleh berdasarkan hasil penelitian empiris dengan menggunakan persamaan matematis. Pernyataan tersebut murni hasil penerawangan penulis yang pada saat kuliahpun termasuk jenis mahasiswa yang kedua.

Dikalangan mahasiswa jenis kedua ini, dikenal sebuah ajaran filsafat bernama filosofi sangkuriang. Ya benar, sangkuriang putra dayang sumbi. Adakah hubungan antara sangkuriang dengan mahasiswa. Tentu saja tidak ada hubungan secara langsung, selain karena perbedaan zaman (sangkuriang hidup di jaman kerajaan , sedangkan mahasiswa sekarang hidup di zaman blackberry), juga sangkuriang tidak pernah tercatat sejarah mengenyam studi di universitas. Namun ada suatu ajaran dari sangkuriang yang mengilhami ribuan mahasiswa sekarang ini. Sangkuriang saja mampu membuat gunung tangkuban perahu dalam satu malam, masa kita (mahasiswa_red) mengerjakan tugas, Laporan praktikum ,  makalah, paper, draft skripsi, dll saja tidak bisa. Begitu kurang lebih ajaran luhur yang dijunjung tinggi mahasiswa jenis kedua ini. Biasanya metode ini disebut juga metode SKS atau sistim kebut semalam, hanya satu malam, dari mulai tenggelam matahari hingga ayam mulai berkokok.

Komentar bernada mencibir banyak terlontar dari berbagai kalangan yang dialamtkan pada mahasiswa jenis kedua ini, berkaitan dengan filosofinya yang nyeleneh. “ Iye tapi kan sangkuriang dibantu mahluk-mahluk sebangsaning jin dan orang-orang sakti mandraguna, lo ngerasa sakti juga n bisa minta tolong ama jin”, inilah cibiran yang paling sering terdengar. Betul memang komentar tersebu,t namun bukan berarti tanpa kesalahan. Mahasiswa jenis kedua ini dalam melakukan pekerjaanya membuat tugas, Laporan praktikum ,  makalah, paper, draft skripsi dll tidak mungkin dibantu oleh mahluk sebangsaning jin. Alasan pertama, Dosa. Syrik, dosa yang tidak bisa diampuni. Meskipun tergolong sebagai mahasiswa “grade B”, namun setidaknya dalam urusan agama tidak lantas menjadi manusia dengan tingkat keimanan pada level “grade B” juga. Alasan Kedua, katakanlah masalah dosa bisa dikompromikan. Bukankan Tuhan maha pemaaf, dan pintu tobat selalu terbuka, mungkin itulah kalimat pembenaran favorit kaum opurtunis.  Cukuplah agama berkuasa dalam tempat ibadah, jangan campur adukan dengan masalah dunia, kata-kata yang sering diteriakan kaum sekuler. Mari kita berandai menjadi kaum opurtunis atau kaum sekuler (ingat hanya berandai saja) yang tidak mengenal kata dosa dalam kamus mereka. Namun apakah mahluk golongan dedemit itu dapat banyak membantu?, pahamkah mereka dengan Teorema Pytagoras, Reynold numbers, Eksperimental Design, atau bahkan bisakah mereka mengoperasikan Ms Word. Pekerjaan yang sia-sia, intinya tidak mungkin meggunakan bantuan jin. Bagaimana dengan bantuan orang-orang sakti. Ya, inilah ternyata kunci rahasianya. Untuk menyelesaikan tugas, Laporan praktikum ,  makalah, paper, draft skripsi, dll. Dalam waktu satu malam, mereka (mahasiswa jenis kedua_red) dibantu oleh orang-orang sakti. Tanpa bantuan orang-orang sakti, mustahil pekerjaanya dapat selesai sebelum ayam berkokok.

Orang-orang sakti yang baik hati ini akan dengan membantu dengan senag hati, kapan saja dan dimana saja. Orang-orang sakti mandraguna itu bernama Mbah Google, Ki Wikipedia, Mas Trasntool, Mak redt*** dll. (yang disebutkan terakir sangat tidak direkomendasikan). Orang yang disebutkan pertama adalah master dari segala orang sakti si seantero jagad ini. Tidak ada yang beliau tidak tahu, dengan kata lain dia tahu segala hal, SEGALA HAL. Meskipun usianya baru seumur jagung untuk disebut mbah, namun kesaktianya sungguh tiada banding. Jika mbah google sudah lahir semenjak zaman sangkuriang nisacaya beliau pun akan turut ambil bagian dalam mega proyek konstruksi tangkuban perahu oleh pejabat pembuat tender, Yth. Sangkuriang.

Kembali ke dunia mahasiswa, singkat kata tugas, Laporan praktikum ,  makalah, paper, draft skripsi, dll Selesai Dalam waktu semalam dan dikumpulkan tepat waktu. Lantas selesaikah masalahnya?, habiskah perkaranya?. Rasanya masih ada perbedaan antara mahasiswa jenis pertama dan mahasiswa jenis kedua. Kualitas tugas yang dibuatnya. Mahasiswa jenis kedua tidak terlalu berfokus kepada kualitasnya, imbasnya, nilai tugas, nilai akhir, dan IPK.

Memang tidak ada jaminan bahwa mahasiswa yang rajin akan lebih sukses daripada mahasiswa yang kurang rajin. Karena memang masih banyak faktor lain yang menentukan selain dari faktor akademik. Namun tentu akan lebih baik jika dapat menjadi mahasiswa jenis pertama tadi. Jika dapat kembali memutar sang waktu, penulispun ingin menjalani dunia mahasiswa secara lebih baik dari yang pernah dialami.

Good luck agent of change……….

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Tulisan bebas. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s