babak akhir odp lima tiga…

Sore ini langit tampak lebih gelap dari biasanya, cuaca Jakarta yg biasanya panas tidak terasa pada saat ini. Aku berjalan seorang diri melewati taman di tengah gedung LPPI, terus melewati koridor ke arah area parkir motor. Sebelum menyalakan motor untuk bergegas pulang , sejenak aku pandangi lingkungan sekitar, gedung berwarna merah yang selama tiga bulan ini aku diami, pepohonan yang membuat LPPI terlihat asri, juga mesjid di sudut jalan yang biasa aku dan rekan-rekan gunakan untuk shalat. Semua sudah terasa sangat akrab dalam keseharianku. Tidak terasa semua ini harus segera aku tinggalkan, untuk menjalani kehidupan selanjutnya yang masih misteri.

Sebenarnya hal yang paling sulit untuk ditinggalkan bukanlah tempat ini, bukan gedung merah yang telah terlihat akrab ini, bukan juga kelas kami dengan formasi meja yang agak aneh itu. hal yang paling sulit untuk ditinggalkan adalah sahabat-sahabatku yang telah mewarnai catatan perjalananku ini. Aku masih agak sulit menerima kenyataan untuk kehilangan teman-teman kelasku yang selama ini kami melalui hari-hari bersama. Canda tawa, riang gembira, tiada hari tanpa keceriaan. Pelajaran-pelajaran yang terkadang membosankanpun terasa lebih menyenangkan. Yel-yel kelas yang terdengar agak menyedihkan, yang kami nyanyikan tiap pagi pasti akan aku rindukan, menikmati break pagi sambil menceritakan hal-hal yang membuat aku tertawa sampai berurai air mata. Akankah hal-hal tersebut bisa kita jumpai lagi kelak. Tidak terasa Ini semua telah memasuki babak akhir. Takdir telah meminta kami untuk segera mengakiri semuanya.

Gerimis mulai turun, memayungi akhir kisah manis di tempat ini. Sepertinya langit ikut terharu, dan turut menemaniku merenung di salah satu sudut gelap tempat parkir. Teringat aku sebuah kejadian dimana kami dimarahi cukup hebat gara-gara terlambat masuk saat break siang, sampai-sampai ada yang menangis karenanya. teringat juga aku akan kejadian di pulau seribu, berdesakan diatas kapal yang bergoyang kencang, di tengah terik matahari, hingga terbakar kulit kami semua. Namun semua itu telah menjadi cerita indah dalam ingatan ku ini, yang hanya bisa untuk dikenang. Roda waktu telah memaksa kami untuk berpisah.

Jika suatu saat aku merindukan kalian, mungkin aku hanya bisa menatap ke langit malam, melihat bintang dan bulan diatas sana, berharap kalian pun menatap pada bulan dan bintang yang sama, walaupun di tempat yang berbeda. Jangan lupakan aku kawan. Aku memang orang yang pendiam, tapi ketahuilah, mungkin aku yang paling menikmati kebersamaan kita di lima tiga.

Tuhan, masihkan engkau di sana. Melihat kami hambamu yang akan segera terpisah oleh jarak dan waktu. Lindungilah teman-temanku ini ya Tuhan, jangan biarkan hal-hal yang buruk terjadi padanya. Tuhan, apakah takdirmu mengizinkan kami untuk bertemu lagi kelak?, pertemukanlah kami nanti dengan kondisi tidak ada satupun diantara kami yang sengsara. Amin. Terima kasih Tuhan. Terima kasih teman-teman.

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Tulisan bebas. Tandai permalink.

Satu Balasan ke babak akhir odp lima tiga…

  1. karlina berkata:

    kangeen kalian semua…kalian yang saat ini ada disini,,di gedung ini,,kalian yang di kota sebelah,,dan kalian yang di seberang lautan..
    ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s