Kapan bisa kompak…???

Menjelang Bulan Ramadhan tahun 2012 ini, seorang kawan yang berbeda keyakinan bertanya dengan polos “Klo km islamnya Apa ndri, Muhamadiyah atau NU??” saya pun agak bingung dengan arah pertanyaan kawanku itu, “maksudnya ???”, dia meneruskan “Iya kamu puasanya hari Jumat atau hari sabtu??” . Oooo … barulah saya paham maksud pertanyaanya.  Saya kemudian jawab saja kalau saya ikut keputusan dari pemerintah, dan sedikit memberikan penjelasan sebisanya bahwa pada hakikatnya Islam di Indonesia itu tidak terbagi dua menjadi Islam Muhammadiyah dan Islam Nahdatul Ulama (NU) seperti yang dia bayangkan, hanya ada sedikt perbedaan metode dalam perhitungan pergantian bulan.

Saya yakin pertanyaan dari kawan tersebut, murni  karena kepolosanya tanpa bermaksud menyudutkan atas apa yang terjadi mengenai perbedaan hari puasa umat Islam di Indonesia. Mungkin hal tersebut terlihat sepele, di televisi pun pimpinan ormas-ormas yang bersangkutan berkali-kali menekankan perbedaan awal puasa di Indonesia tersebut jangan terlalu diperdebatkan. Pemerintah yang telah menetapkan awal puasa pada hari sabtu pun bersikap lunak dengan memberikan kebebasan kepada pihak-pihak yang akan mengawali puasa satu hari sebelumnya yaitu hari Jumat.

Namun, benarkan sesepele itu??

Jujur saja saya bukan ekspertise dalam penentuan awal bulan ini, sejauh yang saya tau memang ada 2 metode dalam menentukan pergantian bulan yaitu metode dengan melihat penampakan bulan (Rukyat) dan dengan metode perhitungan tanggalan (Hisab), that’s all. Kedua metode tersebut juga didukung oleh penjelasan- penjelasan ilmiah, argument-argumen logis dan hadis-hadis dengan banyak riwayat. Akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab jika ada yang bertanya “Metode mana yang paling benar??”

Terlepas dari pertanyaan mengenai metode mana yng paling unggul, saya lebih ingin berpikir dampaknya terhadap Umat. Apakah adu analisa dan argumen atas kedua metode tersebut lebih penting dari persatuan umat??, apakah kredibilitas ormas pengusung masing-masing metode juga lebih penting daripada umat yang kebingungan memilih mengikuti yang mana??. Sementara itu,  disadari atau tidak mungkin di suatu sudut bumi Indonesia ini terdapat suami dan istri yang salah satunya sudah mulai berpuasa sedang yang lainya baru keesokan harinya. Seorang anak yang juga berpuasa sementara orangtuanya baru keesokan harinya, menurut saya hal itu tidak semestinya terjadi.

Saya sependapat dengan pimpinan ormas di televisi itu bahwa perbedaan ini jangan terlalu dibesar-besarkan, namun harus disikapi dengan penuh toleransi. Sepakat, sangat sepakat. Namun pertanyaanya mau sampai kapan berbeda terus?? Tidak bisakah pimpanan ormas tersebutt duduk satu meja, diskusi dengan menangglakan segala atribut dan kepentingan ormas, dan semuanya harus berorientasi kepada kemaslahatan umat.

Maaf hanya baru bisa berkomentar, belum  memberikan solusi. Terima kasih

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Tulisan bebas. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s