Hikayat Bankir Slebor #1. The Beginning…

Penyejuk udara di ruang tunggu ini terasa sedikit berlebihan. Mungkin sengaja dibuat demikian untuk menambah efek tegang bagi semua pelamar yang sedang menunggu hasil tes tahap pertama. Sekitar belasan orang terduduk berjajar memenuhi bangku yang disediakan dengan formasi saling berhadap-hadapan. Tidak tampak obrolan-obrolan atau diskusi kecil sembari menunggu pengumuman selanjutnya oleh tim penyeleksi seperti yg terlihat di ruang tunggu tes pertama tadi. Jelas semua tegang menunggu keputusan apakah layak meneruskan tes ke tahap berikutnya, atau harus kembali mengirim Curicullum Vitae yang telah diisi sedikit hiperbolis secara membabi buta ke perusahaan lain.

Dalam situasi tegang pun kondisi masih terlihat elegan. Ruangan bersih dan sejuk, lantai yang berlapis karpet, pengharum ruangan baeraroma buah-buahan, lukisan dan hiasan lainya juga tampak serasi, seolah ingin menunjukan bahwa perusahaan ini bukan perusahaan abal-abal. Deretan pelamar pun tak mau kalah elegan. Mungkin untuk menunjukan first impression yang baik dimata pewawancara. Para wanita terlihat begitu berkelas, cerminan wanita karir ibukota. Sebagian mengenakan kemeja berwarna formal, ditambah dengan balutan blazer yang senada dengan rok selutut, dan beralaskan sepatu high heels yang sering terlihat di etalase Mall-Mall besar dengan papan nama agak kebarat-baratan. Polesan di wajah tak lupa dibuat istimewa, tampak jelas terlihat mereka telah bekerja keras bergulat dengan perangkat make up nya habis-habisan, meski ada beberapa yang tampak kalah dalam pergulatan itu. Para pria tak kalah rupawan, semuanya berkemeja rapi lengan panjang nyaris tanpa lipatan atau kusut sedikitpun. Beberapa diantaranya mengenakan dasi yang telah dipilih secara seksama agar matching denga kemeja. Sungguh elok suasana disini. Sudah sangat cocok untuk menjadi seorang bankir di sebuah bank besar.

Hanya saja kesempurnaan yang memanjakan mata itu sedikit ternoda oleh seseorang yang duduk diujung barisan. Dengan posisi duduk menyandar lemas pada sandaran kursi, seperti lilin yang meleleh. Pria ceking yang tampak kekurangan kalsium itu tak henti-henti mengamati seluruh isi uangan, matanya menyisir setiap jengkal ruangan dengan posisi mulut agak sedikit menganga. entah penghuni planet mana mahluk ini. Lupakan kemeja rapi nan elegan para peserta lainya. Melainkan kemeja kelonggaran bergaris-garis warna pink yang dia kenakan, sebetulnya garisnya tidak berwarna pink, melainkan merah. Namun karena telah pudar jadi terlihat berwarna pink. Seorang wanita yang duduk disebelahnya lebih memilih mencondongkan badanya kearah berlawanan, berusaha menjauh dari pria mistis ini dengan berpura-pura ngobrol dengan pria disamping satunya lagi. Daripada menjadi seorang bankir, sosok tersebut lebih cocok ditambahi dengan peci agak lusuh dan menenteng map di tangan kananya sembari memohon sumbangan untuk yayasan anak yatim fiktif.

Aku duduk di bangku di ujung barisan ruangan ini. Sambil mengamati ruangan nyaman dengan udara super sejuk seperti udara di daerah Ciwidey pada pagi hari dekat kota kelahiranku di bandung selatan. Ditambah dengan kemeja agak longgar yang aku pinjam dari bapaku ini sepertinya badanku sudah mulai agak menggigil. Aku melirik kemeja yg aku pakai, aku sedikit berpikir, mungkin saat membeli kemeja ini, nasionalisme bapaku sedang berada di puncak tertingginya, atau mungkin pada zaman itu kemeja bergaris vertikal merah dan berwarna berdasar putih sedang menjadi trend pemuda tahun 70an. Eniwey, kini garis merah itu tampak berwana pink.

Yyyuupppp, akulah si pria mistis, yang tampak kurang kalsium, bersandar agak lemas pada sandaran bangku bak lilin meleleh itu. Maklum berjalan kaki dari gambir hingga ke bilangan cikini dengan kondisi belum sarapan cukup menguras energy hohohooo.

Duapuluh menit sudah aku terduduk disini, duapuluh menit juga security di ujung lorong tak henti mengawasiku. Tak pernah lepas sedikit pun, seperti pesawat tempur yang sudah mengunci sasaran tembaknya. Tinggal menekan satu tombol, rudal balistik pencari panas akan meluncur menghantam pesawat musuh didepanya. Begitupun security tersebut, satu saja gerakan mencurigakan tercipta, dia sudah siap meluncur menyeretku ke ruang keamanan.

Aku juga heran, apa aku begitu mencurigakan?? Apa aku tampak seperti akan menggondol salah satu property di ruangan itu?? Apa jika security itu sedikit meleng, seorang pelamar akan berteriak kehilangan henpon dan dompetnya??? Absurd, lebayy, over acting. Jika tidak karena security kampret yang mengawasiku dengan mata elangnya, niscaya nanti malam kamarku akan berhias pengharum ruangan yang menyemburkan aroma buah-buahan segar setiap lima belas menit sekali dan porselin keramik cantik yang kini ada di meja depan kursiku ini. Lohh…??? #%@*&

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Hikayat Bankir Slebor dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s