Hikayat Bankir Slebor 2: The First Test

Lamunanku dikejutkan dengan terbukanya pintu ruang pengumuman. Serta merta mata semua orang tertuju kepada sosok yang keluar dari ruangan. Tiga orang keluar dari ruangan, tiga orang yang 10 menit lalu namanya dipanggil diantara peserta pelamar lain untuk memasuki ruangan. Seorang pria jangkung berambut klimis, seorang wanita berkacamata dan seorang lagi pria sipit berkumis tipis. Didalam benak setiap pelamar lainya tentu ingin menayakan bagaimana hasilnya. Namun pertanyaan itu tak sepatah katapun terlontar, wajar saja, pada saat itu kita belum mengenal satu sama lain. Namun sebenarnya aku bisa menerka hasil apa yang mereka dapatkan barusan (bapaknya dukun ya mass??). Mudah saja menerkanya, dari gestur tubuhnya yang gelisah, dari helaan nafas panjangnya begitu keluar ruangan, dan dari raut muka bak cucian baru kering belum disetrika, dan yang paling jelas bibir nya manyun semua seperti ikan emas di empang belakang rumahku kalau tidak diberi makan 3 hari. “DITOLAKKK”. Pastilah hasilnya DITOLAKKKK ……

Aku tidak terlalu peduli pada kedua pria yang gagal mengikuti tes selanjutnya itu. Si pria jangkung berambut klimis tampak lebih tegar, lebih tepatnya ditegar-tegarkan, mungkin sudah biasa  menerima penolakan dari perusahaan lainya sehingga mentalnya lebih terbentuk. Si pria sipit berkumis tipis pun demikian, mungkin akan lebih cocok buatnya untuk membantu usaha keluarganya berdagang henpon di glodok. Namun lain halnya dengan wanita berkacamata ini, dia tampak sedikit terpukul, mungkin kenyataan ini terasa begitu pahit buatnya, dia mulai berjalan perlahan meninggalkan ruangan, melewati deratan pelamar lain yang sedang menunggu giliran. Begitu dia berjalan melewati bangku dimana aku duduk dengan langkah gontai menenteng tas di tangan kananya , persis seperti langkah pasukan tentara menenteng senapan yang baru saja kalah perang di medan laga. Momen yang mengharukan. Sedih sekali rasanya.  aku perhatikan wajahnya, mesiki dengan bibir masih manyun, wanita ini ternyata tampak manis sekali, rambut panjangnya yang lurus nan aduhai, wajahnya putih bersih, gaya dia membetulkan posisi kacamatanya elegan sekali.  Tak sampai hati aku melihat kekecewaan di wajahnya, ingin sekali aku berbicara yang dapat menguatkan hatinya, ingin sekali aku meminjamkan bahuku jikalau dia memerlukan tempat untk bersandar, ingin sekali aku mengusap kepalanya sambil berbisik “sudah, janganlah bersedih, menikah saja dengan aku”. Seketika itu juga dia mengeluarkan senapan AK-47 dari dalam tas jinjing-nya, menarik pelatuk, memuntahkan semua peluru yang ada dalam magazin tepat  dikepalaku sampai semua isi kepalaku terburai. Imajinasiku terlalu tinggi xixixixiii…. Lagipula aku tidak memiliki perasaan yang sangat halus seperti itu, aku juga tidak terlalu iba, namun rasa simpati terhadap gadis itu memang benar adanya. Rasa simpati yang muncul karena terlalu lama memperhatikan rok si gadis manis yang tingginya satu jengkal dari lutut xixixixiiii……

“Andri Herdiana Kriswandi….” , seseorang memanggil namaku, suaranya bersumber dari sesosok pria yang berdiri di depan pintu ruang pengumuman. Ruang dimana ketiga orang tadi keluar dan terlihat seperti kucing saklit.

“Andri Herdiana kriswandiiiiii…..” nadanya lebih kencang dari sebelumnya…

Aku mengangkat tanganku, pertanda akulah orang yang dia cari. Aku mulai bangkit dari tempat duduku, membetulkan tatanan kemeja longgar bergaris pink yang kupakai dan mulai melangkah, selangkah demi selagkah. Pikiranku tiba-tiba saja berkecamuk, apa aku akan diterima, atau ditolak seperti ketiga orang sebelumnya. Aku agak sedikit tertekan. Semua mata tertuju ke arah ku, aku sedikit nervous, dari tatapan mata yang diarahkan kepadaku seakan semuanya berbicara di telingaku, “ditolakk”, “Ditooollakkkkk”,”DIITTOOLLAAKKKK” . ttiiddakkkkk. Napasku mulai agak tercekat,keringat dingin mulai mengalir di tengkuk ku, aku sedikit mempercepat langkahku.  aku tampak seperti kucing sakit bahkan sebelum pengumuman itu dibacakan  -__-

Didalam ruang pengumuman sudah menunggu seorang pria yang duduk dibalik meja, aura kewibawaanya sangat terasa. Berdasi garis-garis hitam abu, serasi dengan kemeja putih yang halus dan rapi, ID card biru putih yang menggantung di saku dada kirinya seolah ingin memperlihatkan bahwa dia adalah orang yang memiliki wewenang di tempat ini. Didepanya sudah duduk seorang wanita berjilbab putih, dengan tangan kanan mengapit tas jinjing dan tangan kirinya membawa map yang berlogokan susatu universitas ternama di tanah air, si jaket kuning. Dia juga pelamar.  Aku dipersilahkan untuk duduk di samping wanita itu, si pria berwibawa kini berhadap-hadapan dengan kami berdua, dengan meja kerja kayu mengkilap ada diantaranya.

“selamat mas dan mbak dapat kami rekomendasikan untuk ke tes selanjutnya”,  tanpa banyak basa-basi dia langsung berkata straight to the point.

Aku perlu sejenak mencerna kata-katanya, direkomendasikan ke tahap selanjutnya, dengan kata lain lolos tahap ini kan???  Benarkannn?? Kan.. ?? kann??

Xixixii…. aku loloss, perasaanku sedikit melambung, sedikit lebih beruntung dari ketiga orang sebelumnya, bagaimana reaksinya si jangkung,  si pria sipit dan si wanita manis  tadi yaa melihat aku lolos hihihiiiii…. Tanpa disadari aku senyum-senyum sendiri, dengan senyum yang tidak simetris antara ujung bibir kiri dan ujung bibir kanan, hingga si pria berwibawa dan gadis berjilbab di sampingku melihat ke arahku, dengan tatapan terperangah, aku bisa membaca pikiran mereka berdua , ada masalah pada pria ceking ini. Aku berusaha membetulkan sikapku, senyuman di bibir kulipat lagi seperti biasa, kondisi sudah kembali normal. Aku heran kenapa si gadis berjilbab tampak tidak terlalu antusias mendengar pengumuman itu, sangat biasa, hanya ada sedikit senyuman, lebih ke senyum basa-basi, elegan sekali. Mungkin karena dia sudah terbiasa mendengar kata “selamat anda lolos” atau “selamat anda berhasil”.

Aku berusaha mengimbangi sikapnya, seolah itu hal yang biasa juga untuku, padahal kata-kata si pria berwibawa tadi terngiang-ngiang menggema di kepalaku, hatiku menari-nari lincah sekali, anganku terbang melayang tak mau turun, aku ingin mencium tangan si pria berwibawa dengan penuh khidmat kemudian memeluknya sambail berurai air mata, membagi kebahagiaan bersama, seperti adegan di reality show dimana si target yang yang rumahnya dibedah menangis tersedu-sedu memeluk si pembawa acara begitu tirai penutup dibuka di depan rumahnya dan melihat rumahnya ternyata belum jadi -__-, terima kasih pak huhuuuu.  

Sampai jumpa lagi gadis jilbab dari kampus “jaket kuning”, kelak kau akan melihat aku lagi lolos di final test, ya aku si pria mistis dari kampus “Cardigans biru dongker” nyahahhaaaa……

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Hikayat Bankir Slebor dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Hikayat Bankir Slebor 2: The First Test

  1. Amir berkata:

    hi bung, jujur saya belum baca sih. tapi sy seneng bgnt punya temen ente. tentu saja seneng karena tetep menulis meskipun tidak dibaca orang🙂
    hehehe, sy juga begitu soalnya…..

    • andrihaka berkata:

      Aku bgung mir, ini sanjungan apa pujiann, trus aku mesti seneng or sedih dgn komen kn ini -___- tapi yg penring hepiiiu hahahaaaa

  2. anet berkata:

    hahha.. andri tulisannya lebaayyyy.. bay.. bay.. bay (sampe ada echo nya gini) hihihi.. tetap menulis yah.. semanguuuutt! (aku baca kog, makanya bisa bilang lebay)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s