Superman VS Superteam

Beberapa waktu lalu jagad perfileman hangat dengan kerhadiran tokoh superhero klasik dari negeri paman Sam. Seorang manusia berkekuatan super yang selalu menolong yang lemah, membantu yang kesulitan, dan menghajar penjahat. Pahlawan idola anak-anak diseluruh dunia. Sesosok manusia untuk seluruh solusi kedamaian umat manusia. Pribadi rendah hati yang menyembunyikan identitas dan kekuatanya dibalik seorang manusia biasa. The Man of Steel, Superman.

Itulah sekilas mengenai Superman, sekarang mari kita menuju kepada realita dunia kerja kita. Di lingkungan kerja kita, terkadang kita lihat juga sosok-sosok superman. Sesosok karyawan super yang tangguh, mampu mengerjakan semua macam pekerjaan, laporan, analisa, proyeksi, ad hoc, aktif di TIB, dan lainya sebagainya. Sesosok karyawan yang sangat diandalkan, kehadiranya dinantikan, ketidakhadiranya membuat Ia dirindukan, dan Ia tiada tergantikan. Sosok dengan stamina prima bak gundala, selalu siaga diamana saja dan kapan saja. Singkat kata, luar biasa, saya menyebutnya karyawan Superman.

Mari kita telisik lebih dalam. Benarkah kondisi tersebut ideal?, apakah hal tersebut efisien? Entahlah, jawabanya bisa iya, bisa juga tidak,sangat relative. Sebagaimana relative nya seorang pria menilai tingkat kecantikan seorang wanita. Namun apabila boleh berpendapat, saya lebih mengharapkan kehadiran “Superteam” daripada “Superman”. Apa maksudnya Superteam?.  Sama halnya dengan Superman, hanya saja bersifat lebih kolektif. Sebuah team yang tangguh, mampu mengerjakan semua macam pekerjaan, laporan, analisa, proyeksi, ad hoc, aktif di TIB, dan lainya sebagainya, berlandaskan  pada kekompakan, keharmonisan, kodusifitas, saling tolong menolong, saling support, dan saling menutupi kekurangan satu sama lainya.

“Superman” dan “Superteam”, keduanya dapat diciptakan, dan keduanya merupakan pilihan.

Jika kita ingat sepak terjang superman sang superhero, ternyata dia masih memiliki kelemahan. Sekalipun kebal senapan, tapi dia takluk dengan sebuah benda bernama batu krypton. Pun demikian dengan sang karyawan Super. Kelemahanya terletak pada karakter nya yang One man show, serta membuat kondisi organisasi ketergantungan terhadap satu individu saja. 

Lantas bagaimana dengan superteam, apakah juga memiliki kelemahan? Entahlah, Sulit memang melakukan justifikasinya. Namun jika kita bercermin kembali ke dunia perfileman super hero, fim The avenger bisa menjadi rujukan yang baik. Dimana beberapa tokoh superhero bersatu melawan kejahatan yang hendak menguasai bumi. Tokoh Ironman, Hulk, Thor, dan Captain America, saling bahu membahu bertarung melawan musuh dan tolong-menolong menutupi kelemahan satu sama lainya.  

Dunia kerja memang tidak sama dengan panggung perfileman, penilaian akhir murni ditentukan kepada kita semua.

Terakhir saya ingin mengutip sebuah pepatah, if you want to go fast, do it alone. But if you want to go far, do it together. Saya menggaris bawahi kata together disini, yang berarti bersama-sama. Ya, jika kita hendak melangkah jauh kedapan, hanya bisa dilakukan secara bersama-sama.

-Andri Herdiana-

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Hikayat Bankir Slebor dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s