Sejarah Batik Tasik

Penggunaan batik sebagai busana tengah popular saat ini, tidak hanya di Indonesia namun hingga ke mancanegara. Terdapat berbagai versi dalam literatur bagaimana sejarah batik itu berawal. Merujuk pada literatur yang paling popular dimasyarakat menyebutkan bahwa, batik bermula dari zaman kerajaan majapahit di sekitar abad ke 18. Pada awalnya batik merupakan busana yang dikenakan unuk para raja, pengikut raja, dan abdi dalem. Kemudian lambat laun kerajinan membatik ini mulai menyebar ke mataram, Yogyakarta, solo. Kesenian membuat batik semakin digemari oleh kalangan masyarakat, terutama kaum wanita, selain untuk mengsi waktu luang juga untuk menambah pendapatan. Para pengrajin batik yang bisanya dilakukan abdi dalem mulai menyebar ke daerah timur dan barat.

Abdi dalem dan pengrajin batik yang berpindah memperkenalkan seni membatik ke daerah barat di priangan timur seperti Ciamis, Cirebon dan Tasikmalaya. Motif batik yang dibuat di daerah inipun berakulturasi dengan budaya setempat mencipatakan motif khas yang tersendiri. Ada yang berpendapat bahwa batik tasik memiliki pengaruh dasar dari daerah tegal dan pekalongan. Wilayah di Tasikmalaya yang terkenal dengan pembuatan batik pada awal mulanya yaitu Sukapura (hingga kini terkenal dengan motif Sukapura-an), Manon jaya, Mangunreja, dll.

Tradisi dan dan sejarah berlanjut. Perkembangan batik tasik mencapai puncaknya pada sekitar tahun 1950-1960, yang dimotori oleh koperasi Mitra Batik yang dibentuk tahun 1939. Bahkan meskipun koperasi tersebut sudah tidak lagi berdiri, namya diabadikan sebagai nama sebuah kawasan di tasik.

Keseharian masyarakat Priangan timur yang kebanyakan sebagai petani dan peternak ikut  memengaruhi corak dan batik dari wilayah Tasikmalaya. Apa yang mereka lihat di sawah, ladang, atau kolam kemudian dituangkan menjadi motif di atas kain mori. Tidak heran apabila motif batik dari Priangan didominasi oleh flora dan fauna. Beberpa yang terkenal diantaranya motif awi ngarambat (bambu merambat), merak ngibing (merak menari), laba-laba, burung keladi, gurami, Keong emas, dan daun talas

Setelah masa itu, batik Tasik mengalami masa sulit akibat kesulitan bersaing dengan maraknya kain bermotif batik (printing) yang banyak beredar dimasyarakat, selain harganya lebih murah kain bermotif tersebut bisa diproduksi dengan mudah sebanyak apapun permintaan.

Pada dekade tahun 2000 ini batik tasik mulai kembali menggeliat. Denyut nya mulai tampak di daerah seperti cigeureung, ciroyom, sukapura dll. Sedikit-demi sedikit mulai mengikis pertanyaan masayarakat “memang ditasik ada batik?”

http://www.nagarihardja.com

-andri herdiana-

Batik Tasik

Batik Tasik

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di The Art of Batik dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s