Hikayat Bankir Slebor #6: Year of Football

Tahun 2010 adalah tahunya sepkabola. Dimana perhelatan terakbar sepakbola digelar, kegermelapan yang hanya bisa disaingi oleh Piala dunia, inilah Euro 2010. Negara-negara terbaik akan beradu skil, kemampuan, dan nasib mereka di atas lapangan hijau di negeri Polandia. Sebuah Negara berbendera Indonesia terbalik. Mungkin pembuatnya adalah tukang percetakan yang sama dengan yang diorder Indonesia, saat tukang tukang setting nya kehabisan ide membuat design bendera.

Beruntung pertandingan banyak ditayangkan secera live pada malam hari, karena pada siang hari kami harus mengikuti training seharian. Dan beruntung pula kami memiliki teman yang memiliki TV di kost nya. Tessa Tavisar, satu-satunya gadis pecinta bola asal Semarang di kelas kami. Bisanya kami mengendap-endap tengah malam dengan menutupi kepala menggunakan sarung, ala ninja jepang menyusuri kemang utara tanpa suara, menghindari patroli ronda, menuju kost-an Tessa, melompati pagar kost-nya, dan nonton bareng dengan mode silent. Sedikit penuh resiko, namun itulah harga yang harus dibayar demi menyaksikan Euro 2010. Resiko lebih besar sebenarnya ditanggung oleh Tessa, apa jadinya jika bapak kost memergoki segerombolan ninja bercelana pendek bergumul tanpa suara di kamar kost seorang wanita.

Hegemoni sepokbola terasa dimana-mana, pasar taruhan dan mafia judi bola berpesta. Pasar taruhan di pangkalan ojek kemang selatan di samping kost-ku ramai setiap hari. Mas Gimin sebagai Bandar terkadang mengacuhkan pelanggan yang minta diantar ojeknya saking sibuk mencatat daftar taruhan. Pengamat sepak bola saling beradu analisa memprediksikan Negara mana yang akan menjadi juaranya.

Menurut analisa kang Entis, Spanyol akan keluar sebagai juara. Aku pikir aku sependapat. Bukan lantaran karena sama-sama orang sunda, atau juga bukan karena motor ojek kang entis sama dengan motornya si andy. Tapi karena memang analisanya tajam, logis, dan komprehensif. Meski belakangan aku ketahui bahwa apa yang dia katakan adalah kutipan analisa pegamat sepakbola professional di media cetak yang dia pinjam dari lapak Koran di samping pangkalan ojek.

Spanyol, tim berjuluk La Furia Roja ini sedang berada di puncak kejayaanya, dihuni oleh generasi emas talenta-talenta istimewa yang berlaga di tim-tim terbaik dataran eropa. Sebut saja Xavi Hernandez, Andreas Inieasta, David Silva, Fernando Tores, dan Fulgoso. Saya yakin nama yg disebut terakhir terasa asing ditelinga para pecandu bola, namun terasa familiar di telinga pecinta telenovela. Dengan materi pemain tersebut membuat pekerjaan pelatih menjadi lebih mudah. Bahkan sekalipun dilatih oleh Yeyen Tumenak tim ini tetap akan berbahaya, setidaknya bisa membahayakan karir pelatihnya. Tim matador adalah  tim yang paling disegani di kompetisi ini, rahasia lainya Spanyol berhasil menjadi tim paling disegani adalah karena mereka berperilaku sopan. Ya benar, sopan. Seperti pepatah minang yang tertera di restoran padang sederhana di belokan samping grand kemang. “anda sopan, kami segan”. Tim spayol mengadopsi falsafah tersebut, dan terbukti berhasil, semua orang segan dengan tim Spanyol. Dan tidak semua rumah makan padang menempelkan tulisan tersebut, hanya di rumah padang sederhana yang benar-benar sederhana. Bukan rumah makan padang berlabel sederhana namun degan harga semena-mena, yang berlantai tiga dan bertebaran di Jakarta.

Tentang andrihaka

Jika tidak terlalu pandai berbicara, belajarlah Menulis...
Pos ini dipublikasikan di Hikayat Bankir Slebor dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s